Jumat, 20 Juli 2012

Bintang

Saat pertama kali seorang bayi lahir, itu bukanlah pilihannya. Itu takdirnya yang menyebabkan ia tumbuh dari segumpal darah membentuknya menjadi tulang yang tersusun atas kepala, tubuh, tangan hingga kaki yang kemudian hadirlah ruh yang masih belum bebas, yang masih dilapisi dinding rahim seorang wanita. Lalu ia lahir, itu bukan juga pilihannya, melainkan takdir yang memilihnya untuk tetap hidup sekuat apapun seseorang berusaha membunuhnya. Ia tetap seorang bayi kecil yang tidak berdosa, yang tanpa suara dan tanpa tindakan menganjarkan pada manusia arti sebuah hidup. Ia tetap malaikat kecil yang dengan suara tangis dan tawanya memberi kebahagiaan yang besar bagi sekitar. Hal kecil yang sungguh berarti.
Sampai pada akhirnya seorang anak memasuki usia balita. Belajar untuk mencoba berjalan walau hanya merangkak dengan kedua tangan dan kakinya, menggapai benda yang dianggapnya menarik. Jatuh dan kembali lagi untuk merangkak untuk mendapat apa yang diinginkan. Hal yang terjadi bukan sepenuhnya atas kesalahannya, melainkan keingintahuannya, mengajarkannya tentang dunia. Orang tualah yang masih berperan penting atas apapun yang terjadi dalam hidupnya. Hingga ia belajar untuk berjalan meski harus tertatih, tapi ia harus berdiri agar ia bisa melihat dunia lebih jelas tanpa harus melihat dari posisi yang berbeda, tanpa melihat segalanya lebih besar dari penglihatannya.
Dan dia pun mulai tumbuh menjadi remaja yang rasa keingintahuannya makin besar dan hal yang terjadi merupakan hasil dari keputusan yang telah ia buat. Sikap-sikap labil yang membuatnya belajar tentang makna hidup, menghargai sesama, memahami sekitar. Hal ini merupakan metamorfosis untuknya menjadi manusia dewasa yang hidupnya bukan lagi ditentukan takdir, kesalahannya bukan lagi tanggung jawab orang tuanya, keingintahuannya bukan lagi hal untuk dicoba melainkan harus dengan alasan dan pola pikir yang jelas.
Dan kamu, manusia yang belum hadir ke dunia yang sudah punya nama. BINTANG. Semoga kau selalu bersinar persis seperti bintang yang tanpa matahari bisa menimbulkan cahayanya sendiri dan kau pun begitu, mengajarkanku arti kehidupan, kaulah sahabatku, guruku bahkan kau kasihku.

Minggu, 08 Januari 2012

mimpi itu tetap ada

Tiap orang pasti punya impian,,cita-cita...mulai dari anak kecil udah ditanya "kalo udah gede mau jadi apa?". Waktu gue kecil dulu (SD) cita-cita gue jadi guru karna guru tugas yang mulia apalagi dulu sering banget nyanyiin lagu Hymne Guru dan betapa terpujinya Beliau. Nah, gue juga mau di puji-puji gitu sama orang banyak. Tapi pas SMP cita-cita gue berubah lagi dikarenakan gue ngeliat bangunan-bangunan yang muncul di TV (rancangan arsitektur terkenal) bagus dan menyentuh banget. So, jadilah gue kepengen jadi arsitek. Eh, pas SMK gue ngambil jurusan Akuntansi, maka gue ga jadi punya cita-cita Arsitek. Gue udah mulai berpikir realistis bahwa bidang gue di Akuntasi jadi cita-cita gue juga musti ada hubungannya sama Akuntansi (ngerasa goblok punya pikiran kaya gini). Yaudah, gue putusin pengen jadi Ahli Akuntansi di setiap lembar survei. Berharap impian gue ga berubah sejak itu. Tapi kehidupan berbicara lain, setelah gue lulus, gue kerja sebagai staff Accounting. Lama-lama cape juga hidup dengan Akuntansi selama sekian tahun sejak SMK. Pas gue mau ambil jurusan untuk kuliah, yang terbersit dalam otak gue cuma "ambil jurusan lain selain Akuntansi". Finally, gue ambil jurusan Teknik Informatika. Gue pikir ga susah-susah amat tapi ternyata gue ga bisa mencintai Informatika seperti gue mencintai Akuntansi. Dan kuliah gue hanya berakhir di semester 2 karna gue ga bener-bener sepenuh hati.
Sekarang kalo ditanya, "mau jadi apa Tan??". Gue cuma bilang "jadi orang sukses". Mau di bidang apapun itu, gue harus berusaha. Gue tetep percaya jalan masih ada untuk orang yang berjuang. Jangan pernah berhenti bermimpi. Dan tahun ini, gue harus merealisasikannya....